Semenjak digaungkannya Moeldoko menjadi Ketua Umum Partai Demokrat di Sumatra Utara (Sumut). Atas terselenggaranya Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Sumut, Pesan atau konfresensi pers atau juga bisa dibilang pidato dari Mantan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi lesu.

Pasalnya pidato yang lantang dan gempar oleh Ketua Umum Demokrat Baru, Moeldoko memberikan semangat kepada semua kader yang hadir di sana untuk memajukan partai.

Jika diambil kesimpulan dari pesan yang disampaikan SBY maupun AHY memang rasional namun ada beberapa hal yang juga menjadi tolak ukur kenapa KLB dilaksanakan. Namun semua yang menentang KLB juga memiliki hal yang sama, kenapa mereka menganggap konferensi ya ilegal.

Namun kesan yang diberikan pada saat SBY dan AHY berpidato melalui siaran pers juga memberikan peringatan, menjabarkan kebenaran dan mengulik bagaimana yang sebenarnya.

Ada sedikit keganjalan sebenernya SBY dan AHY melakukan hal tersebut, berdasarkan banyaknya komentar nitizen yang beredar. Kenapa mengungkapkannya dengan nada melo, melankolis bahkan lesu?

Padahal di sisi lain Moeldoko berpidato di depan podium sebagai pihak yang dipilih para kader di Sumut, dengan tegas dan berapi-api mengungkapkan berdirinya demokrasi dan menjabarkan leadership untuk partainya.

detikNews

Lalu, apakah pesan dan kesan anak dan bapak yaitu SBY dan AHY terlihat lesu?

Hukum indonesialah yang menjawab dan berdiri tegak.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RSS
Follow by Email
Telegram